Sabtu, 09 Januari 2016

cerita lelaki tua penjual koran berkaki satu

LELAKI TUA PENJUAL KORAN BERKAKI SATU
traffic light TVRI Jalan MayJend Sungkono Surabaya Tanggal 1 Januari 2016 pkl 11.00 Wib
Seorang penjual koran menjajahkan dagangannya dibawah terik matahari
Diwajahnya nampak guratan jaman demi jaman dilalui lelaki tua ini
Dengan gigih Ia tawarkan barang dagangannya penuh keyakianan akan ada pembeli yang membeli barang dagangannya
Tertarik dengan apa yang dilakukan lelaki tua berkaki satu tersebut lalu kudekati sambil kubawakan bungkusan nasi dan air mineral
Aku terkejut dengan raut wajahnya yang bersinar cerah penuh keyakinan dan keteduhan dalam menghadapi jaman kedepan
"selamat siang pak, bisa kita ngobrol sebentar sambil makan siang," sapaku membuka obrolan.
"siang dik, boleh...kita ketepi sebelah sana saja,"jawabnya sambil tersenyum tulus.
"bapak sudah lama jual koran disini?" tanyaku melanjutkan obrolan.
"sudah 10 tahun dik, kita duduk disini saja," dengan sigap digelarnya alas untuk duduk kami berdua, lalu kuberikan nasi bungkus dan air mineral .
Sambil makan aku terus bertanya ," Apa yang membuat bapak begitu kuat berjualan koran dibawah terik matahari yang menyengat ?" rasa penasaranku tergelitik untuk bertanya .
" bapak harus terus berjuang mencari nafkah untuk bisa membeli sesuap nasi ,"jawabnya sambil menyantap nasi bungkusan yang kubawakan.
"memangnya berapa orang keluarga bapak ?"
"bapak hidup berdua dengan istri bapak yang sangat cantik ini..."sambil menunjukkan foto istrinya yang selalu dibawa didal;am dompetnya.
Aku juga sempat melihat isi dompetnya yang tidak ada uangnya sama sekali "kenapa dompetnya tidak ada uangnya sama sekali pak?" tanyaku penasaran.
"dompet bapak tidak biasa  tidak ada uangnya, akan tetapi sudah terbiasa tidak ada uangnya dik,"
jawabnya datar.
"apakah bapak tidak punya anak?"
"tidak...rupanya tuhan tidak mempercayai bapak untuk punya anak, seandainya bapak punya anak betapa bahagianya ."
"kenapa begitu pak ?" terus kubertanya
"karena bagi bapak anak adalah aset paling berharga."
" berapa usia bapak sekarang ini ?"
" kira-kira 90 tahun ."
" berarti bapak dulu ikut berjuang ?"
" bapak dulu adalah anak buah pak jarot ," air mukanya cerah mengenang masa perjuangan dulu.
" bagaimana perjuangan arek-arek suroboyo dulu pak ?"
" dulu markas penjajah ada dikantor pos besar...pejuang kita ...arek-arek suroboyo ada di tugu pahlawan ... di tugu pahlawan itulah banyak pejuang kita mati ... saat terjadi peperangan antara pejuang dan penjajah ...pejuang kita dipukul mundur oleh penjajah ... kami mundur melewati jalan banyu urip-simo-tandes- benjeng-balung panggang-sampai mantub," cerita bapak sambil mengingat masa perjuangannya dulu dengan sangat bangga.
ternyata lelaki tua ini adalah seorang pejuang kemerdekaan yang dulunya ikut merebut dan mengembalikan tatanan bangsa dan negara ini pada posisi yang sebenarnya.
dan saat ini harus kembali berjuang untuk memperjuangkan hidupnya demi sesuap nasi.

gegezulkarnaen_